Foto: Direktur Hukum, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kartini Heritage Center (Elisa Sugito Goenadihardjo).

Temuidnews, JAKARTA — Direktur Hukum, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kartini Heritage Center, Elisa Sugito Goenadihardjo, menegaskan bahwa kemajuan Indonesia tidak cukup diukur melalui pertumbuhan ekonomi, pembangunan fisik, maupun pencapaian teknologi. Kemajuan bangsa juga harus tercermin dalam jaminan perlindungan, kesetaraan kesempatan, dan ruang partisipasi bagi seluruh masyarakat, terutama kelompok rentan.

Pesan tersebut disampaikan Elisa dalam sesi Generation Builders: Lightning Relay pada forum nasional The Legacy Relay 2026 di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Dalam sesi yang dimoderatori Wahyu Hidayat, Direktur Elmanaseek, Elisa menanggapi pertanyaan mengenai cara memastikan bahwa kemajuan Indonesia juga memberikan kesempatan, perlindungan, dan ruang partisipasi yang lebih setara bagi masyarakat.

“Apa artinya Indonesia menjadi negara maju, jika masih ada perempuan yang takut bersuara, anak yang belum terlindungi, dan anak muda yang merasa suaranya tidak berarti?” ujar Elisa dalam forum tersebut.

Menurut Elisa, keberhasilan pembangunan harus dilihat dari bagaimana negara memperlakukan manusia, terutama mereka yang paling rentan dan memiliki akses terbatas terhadap kekuasaan.

Ia juga menekankan bahwa semangat perjuangan R.A. Kartini tetap relevan bagi generasi muda saat ini. Perjuangan untuk memperoleh pendidikan dan kesempatan yang setara perlu dilanjutkan dengan memastikan perempuan dan anak terlibat sebagai pelaku perubahan, bukan sekadar penerima manfaat.

“Perempuan maupun anak-anak harus ikut terlibat sebagai pelaku perubahan, bukan hanya penerima manfaat,” tegasnya.

Elisa menambahkan, generasi masa kini tidak hanya perlu memikirkan warisan yang akan diterima, tetapi juga kondisi yang akan ditinggalkan bagi generasi selanjutnya. Upaya memperluas akses pendidikan, memperkuat perlindungan, dan membuka ruang partisipasi yang lebih luas merupakan bagian penting dari tanggung jawab antargenerasi.

Menurutnya, perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Konsistensi dalam pendidikan, karya, serta kepedulian terhadap sesama dapat menjadi kontribusi bermakna bagi masa depan bangsa.

Pandangan tersebut menjadi salah satu pesan utama The Legacy Relay 2026, yang diselenggarakan Yayasan Kartini Heritage Center bersama Forum Dialog Nusantara dengan tema “What Will Our Generation Leave Behind?”.

Forum ini diikuti sekitar 150 peserta secara langsung, dengan partisipasi hybrid hingga 500 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, akademisi, profesional muda, wirausahawan, kreator, komunitas, dan pelaku industri.

Melalui delapan klaster diskusi, peserta merumuskan 28 gagasan untuk Indonesia 2045 yang akan dibukukan dalam Legacy Relay 2026. Pembahasannya mencakup pendidikan, kesetaraan, karakter kebangsaan, ketahanan pangan, kewirausahaan, teknologi, kebudayaan, kreativitas, dan partisipasi generasi muda.

Elisa memandang bahwa tanggung jawab generasi saat ini adalah memastikan generasi berikutnya memperoleh kesempatan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.

Pesan tersebut menempatkan perlindungan perempuan dan anak, kesetaraan, serta keterlibatan anak muda sebagai bagian penting dari cita-cita Indonesia menuju satu abad kemerdekaan pada 2045.

Sebab, warisan terbaik sebuah generasi bukan hanya pencapaian yang ditinggalkan, melainkan juga terciptanya masyarakat yang lebih adil, manusiawi, dan memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk berkembang.

Tinggalkan Balasan

Quote of the week

“Sebesar-besarnya harapan adalah cukup berharap kepada tuhan yang menciptakanmu”

~ Muhammad Akhir