Foto: Muhammad Akhir, Ketua Umum/Direktur Eksekutif Talenta Muda Inspiratif Indonesia

Temuidnews, INFO – Dalam studi sosiologi kontemporer, ada tesis menarik mengenai munculnya kekuatan baru dari wilayah yang sering disebut periphery atau pinggiran.

Selama dekade terakhir, episentrum urban selalu dianggap sebagai pabrik tunggal pencetak elite pemimpin. Namun, jika kita membedah profil Muhammad Akhir, S.Kom., MM., Direktur Eksekutif Talenta Muda Inspiratif Indonesia (TEMUID INDONESIA), kita akan menemukan sebuah antitesis: bahwa ketangguhan gagasan justru sering kali lahir dan mengental dari wilayah tepian.

Lahir di Desa Waworada, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Akhir tumbuh di tengah denyut nadi sektor agraris dan kelautan. Secara akademis, latar belakang sosiologis ini bukan sekadar romantisasi asal-usul, melainkan sebuah bentuk experiential learning (pembelajaran berbasis pengalaman).

Menghirup udara pedesaan yang mengandalkan pertanian dan laut membentuk sensitivitas sosial yang tinggi sebuah modal fundamental bagi seorang sosiolog maupun praktisi kebijakan publik untuk memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat akar rumput.

Jalur edukasi yang ditempuhnya memperlihatkan sebuah sintesis keilmuan yang sangat strategis di era disrupsi. Memulai langkah dari SDN Inpres Waworada, MTS di Waworada, hingga MAN 1 Kota Bima, Akhir kemudian mengambil lompatan besar ke Yogyakarta untuk mendalami S1 Teknik Informatika di Universitas Akprind Indonesia.

Di era di mana data is the new oil, pemahaman formal mengenai logika sistem informasi memberikan Akhir ketajaman analisis yang terstruktur. Menariknya, ia tidak berhenti pada kecakapan teknis (hard skills). Sintesis keilmuannya menjadi paripurna ketika ia menyelesaikan S2 Magister Manajemen Sumber Daya Manusia di Universitas Nasional.

Dalam kacamata manajemen strategis, kombinasi antara literasi digital (S1) dan tata kelola manusianya (S2) adalah aset langka. Ia memahami bagaimana teknologi bekerja, sekaligus mengerti bagaimana menggerakkan manusia yang mengoperasikannya. Selain itu, ia aktif pada dunia organisasi kemahasiswaan, aktivisme organisasinya di Yogyakarta menjadi inkubator yang mematangkan kapasitas kepemimpinannya.

Menjabat sebagai Sekretaris Umum FORMAL Yogyakarta, Ketua Umum Keluarga Pelajar Mahasiswa Bima Yogyakarta, hingga Ketua Bidang Ekonomi Pembangunan BEM DIY dan berproses di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), menunjukkan mobilitas sosial vertikal yang dinamis. Di sinilah terjadi proses social capital accumulation (penumpukan modal sosial). Melalui organisasi, ia belajar melakukan negosiasi, manajemen konflik, dan konsolidasi gagasan dari skala lokal hingga regional.

Manifestasi dari akumulasi modal akademik dan sosial ini menemukan panggung aktualisasinya saat ia dipercaya menjadi Tenaga Ahli DPR RI Dapil NTB 1 di Komisi 4. Secara konseptual, posisi ini menjadi jembatan dialektis. Komisi 4 yang membidangi pertanian dan kelautan seolah menjadi ruang pembuktian empiris bagi Akhir.

Pada ruang parlemen inilah ia mengonversi memori masa kecilnya tentang tantangan petani dan nelayan di Waworada menjadi substansi kajian kebijakan publik yang teknokratis.

Kini, menakhodai TEMUID INDONESIA, Muhammad Akhir memikul tanggung jawab transformatif. Tantangannya adalah bagaimana mendistribusikan kapasitas, literasi, dan akses yang pernah ia rasakan kepada generasi muda lainnya secara inklusif.

Profilnya adalah sebuah studi kasus hidup: bahwa batasan geografis masa lalu dapat diredam oleh kualitas intelektual dan ketekunan berorganisasi. Akhir membuktikan bahwa untuk menginspirasi Indonesia, seseorang tidak harus berangkat dari pusat kota, melainkan dari pemahaman mendalam tentang pinggiran yang dibawa ke panggung nasional.

Disusun oleh Tim Talenta Muda Inspiratif Indonesia – TEMUID INDONESIA

Tinggalkan komentar